Trip to Mataram-Lombok (020710)

20 10 2010

i’m trying to make a slideshow😀

This slideshow requires JavaScript.

Our route : Selaparang Airport-Banyumulek (Lombok Pottery Center)-Sukarare (Lombok Woven & Handicraft Center)-Senggigi Beach-Puri Saron Hotel





Don’t Judge the Egg from Its Shell (Episode Telur Meledak)

16 09 2010

Berawal pada Kamis malam, 16 September 2010, saat kami sedang menyiapkan makan malam di asrama. Berhubung kami sedang lapar-laparnya, dan saat itu adalah H+6 lebaran, dimana warung-warung makanan masih sedikit yang sudah buka, maka kami memutuskan untuk memasak apa yang ada. Keputusan tersebut kami ambil karena kami meyakini (halah) berdasarkan pengalaman sehari sebelumnya (H+5 lebaran) kami pun mencoba memasak apa yang ada. Dan hasilnya :

hasil masakan di H+5 lebaran


Sate bandeng yang dibawa Hana, ulen yang dibawa Teh Iin, telur dadar, tepung goreng (agak maksa, tapi enak kok :)), nasi liwet, dan Coca Cola yang dibawain ibunya Teh Iin.
Alhamdulillah masih bisa makan enak😀
Berdasarkan pengalaman ‘makan enak dari apa yang ada di dapur’ itulah yang membuat kami yakin bisa makan enak juga di H+6 lebaran. Ingin mengulang kesuksesan. Hehe…
Tidak seperti H+5 yang hanya saya, Hana, Teh Iin, dan Mbak Rini yang baru pulang ke asrama, di H+6 beberapa orang juga telah pulang ke asrama. Kami membagi-bagi tugas memasak hari itu. Dini ingin masak sop dan Nutrisari Jelly yang dibeli sore hari itu. Hana mempersiapkan bahan-bahan. Saya masak nasi liwet dan membuat sambal. Teh Iin menggoreng ulen dan membuat telur dadar. Dan alhamdulillah Cily datang dan membawa ikan balado yang dibawa dalam sebuah botol Aqua ukuran 600 ml (???, ibunya Cily benar-benar super, gimana masukinnya coba?).
Tragedi ini pun dimulai saat Teh Iin sedang mengecek kondisi telur-telur. Berhubung telur yang kami pakai adalah telur dari jaman masak-memasak di bulan Ramadhan, jadi pasti ada yang membusuk, jadi dicek dulu. Tiba-tiba ada suara ledakan (letupan lebih tepatnya) dari arah Teh Iin. Ternyata ada telur busuk yang meledak. Baunya mulai menyebar. Busuk sekali. Meskipun exhaust fan di dapur sudah dinyalakan tapi tetap saja bau H2S itu bertahan cukup lama, sekitar 15 menit kami meninggalkan dapur.
Kami penasaran dengan kejadian tersebut. Kenapa bisa meledak? Menurut pengakuan Teh Iin telur yang meledak tersebut cangkangnya bagus, tidak terlihat sama sekali seperti telur busuk.
Teh Iin pikir isi telurnya bagus.

Tapi ternyata isinya seperti ini

Warnanya abu-abu kehitaman. Mengerikan.
Hipotesis kami ledakan itu ditimbulkan oleh H2S yang dihasilkan pada proses pembusukan telur. Kami mencoba meng-Google ternyata penjelasannya kurang lebih hampir sama. Tekanan dari H2S yang semakin banyak itulah yang dapat menimbulkan ledakan. Dan ternyata menurut beberapa sumber di internet, gas H2S juga bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, mengatasi peradangan pada sendi, dan sebagainya.
Subhanallah…telur busuk pun masih ada manfaatnya…
Oke, biarpun ada tragedi telur meledak perut kami harus tetap diisi. Alhamdulillah masih ada beberapa telur yang bagus. Dan inilah hasil masakannya:

Nasi liwet, telur dadar, ulen goreng, ikan balado, sayur sop, sambal terasi, dan jelly kiwi fla yoghurt.
Alhamdulillah lebih enak dan lebih sehat daripada kemarin😀

Jadi, “don’t judge the egg from its shell”, cangkangnya bagus belum tentu isinya bagus. Analoginya bisa disamakan dengan “don’t judge a person from his/her appearance” lah ya, hehe…😀





Self Contemplation

20 08 2010

Pernahkah terlintas di benak kita : “Saya bersyukur atas keadaan saya sekarang”?

TK dan SD Islam tempat saya belajar tidak berhasil membuat saya berjilbab. Ketika masuk ke SMP saya diingatkan oleh seorang teman kuliah ibu saya untuk memakai jilbab, hingga  dibukakan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan tentang hal tersebut. Tapi hal tersebut hanya saya terima tanpa saya laksanakan.

Masuk SMA, saya pun belum berkeinginan untuk memakai jilbab, bahkan menolak dengan alasan yang aneh : “Nanti muka saya penuh donk, ada kacamata, behel, dan jilbab”. Benar-benar membuat saya tertawa kalau mengingatnya. Hehe..😀

Niat masuk SMA pun sama sekali tidak lurus. Saya berniat dalam hati : “Kalau saya udah SMA, saya mau pacaran”.

Astaghfirullah….

Mentoring di SMA saya ikuti dengan ogah-ogahan, kabur-kaburan, bahkan sampai bohong-bohongan (maksudnya banyak berbohong sebagai alasan untuk tidak mengikuti mentoring).

……………………

Akhir kelas 1 SMA, entah karena motivasi apa saya memutuskan untuk berjilbab. Dengan bermodalkan 1 pasang baju panjang seragam putih-putih untuk hari Senin dan 1 pasang putih-abu2 untuk Selasa. Untuk hari Rabu dan seterusnya belum sempat terpikirkan, yang penting berjilbab dulu, pikir saya.

Kelas 2 SMA akhirnya saya dengan senang hati mau mengikuti mentoring. Saking semangatnya sampai-sampai saya dan 1 orang teman saya mengikuti 2-4 mentoring dalam seminggu dengan kelompok yang berbeda-beda. Sampai pada akhirnya saya dan teman saya tersebut dikelompokkan dalam sebuah halaqoh bersama murabbiy pertama saya. Saya sangat kagum dengan karakter murabbiy saya, tegas namun lembut. Saya juga sangat kagum dengan teman-teman satu halaqah saya. Akselerasinya sangat luar biasa. 90 % teman-teman satu halaqah saya baru berjilbab ketika kelas 2 SMA. Namun pada akhir kelas 2 SMA, mereka telah menjadi asisten mentor, bahkan tak jarang mereka menggantikan posisi mentornya ketika mentor tersebut sibuk (karena pada umumnya mentornya masih kuliah).

Ketika kelas 3 SMA, salah satu teman halaqah saya bahkan berani mengambil keputusan untuk menikah karena alasan : tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak dia kerjakan. (Bagian ini akan diceritakan secara khusus di postingan berikutnya). Subhanallah….

Ketika memilih tempat kuliah pun tidak muluk-muluk, FSRD ITB, apa bisa? yaaa dicoba aja. Kalau masuk alhamdulillah, kalo ga ya bukan rejekinya. Ternyata Allah menghendaki saya masuk. Saya bertanya :

Allah menginginkan apa dari saya di sini?

Pertanyaan itu terus yang saya ajukan kepada Allah dan kepada diri saya sendiri ketika saya berhasil memasuki program studi yang diinginkan, mendapat amanah tertentu, atau berhasil mendapatkan suatu kesempatan.

TERNYATA…..

Apa yang Allah inginkan adalah pengenalan, pembelajaran, dan peningkatan kompetensi diri saya. Belajar menerima keadaan, mempelajarinya, dan memecahkan permasalahannya sendiri.

Learning by doing

…………………………………………….

Dari situlah saya mulai mengerti apa arti :

Apa yang Allah berikan adalah bukanlah apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan

Sekarang saya ingin kembali flashback.

Apakah kita menjadi baik hari ini karena usaha kita? karena do’a-do’a kita?

Ternyata Allah-lah yang berbaik hati menunjukkan, mengarahkan, menggerakkan tubuh dan pikiran kita untuk berubah. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Mensyukurinya dengan berusaha men-istiqomah-kannya, meng-evaluasi, memperbaikinya, dan meningkatkannya setiap waktu, karena ujian akan datang di saat yang tepat untuk naik tingkat.

Semoga kita senantiasa syukur ni’mat dan dihindari dari kufur ni’mat.

Gambar : dari berbagai sumber





Tidakkah kau malu?

17 08 2010

Tidakkah kau malu?
Saat Allah memberi apapun kebutuhanmu
Sementara dirimu terus menerus merasa kurang

Tidakkah kau malu?
Saat Allah memberimu jalan untuk berubah
Sementara dirimu terus menerus berbuat dosa

Tidakkah kau malu?
Saat Allah mencintaimu
Sementara dirimu membiarkannya bertepuk sebelah tangan

Astaghfirullaahal ‘azhim………….
Astaghfirullaahal ‘azhim………….
Astaghfirullaahal ‘azhim………….

Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih…….

-teruntukdiriyangpenuhdosa-

gambar : dari berbagai sumber





Malam (Berbagi) Gerhana

30 06 2010

26 Juni 2010
Sore itu setelah saya menyelesaikan amanah saya di pengajian warga ganesha, pikiran saya tidak berhenti berpikir (seperti to do list yang ada di komputer) tentang agenda-agenda berikutnya yang harus saya selesaikan malam itu. Berhubung besok pagi ada pernikahan anak asrama (Kg Husni & Teh Dian) di Salman jadi pasti riweuh. Senin paginya kudu asistensi TA sama dosen pembimbing, ga boleh telat, & harus menyelesaikan semua kekurangan yang dicatat oleh dosen pembimbing. Fiuuhh…(tidak boleh mengeluh, heuuu… :D)
Makan-beliin susu buat Eka (seorang teman di asrama nitip beli susu bantal)-fitting baju pager ayu-rapat OL SR sambil ngerjain revisi TA. Pokoknya intinya malem itu niat mulianya kepingin bergadang sambil menyelesaikan semuanya.
Oleh karena itu, saya & Dini (teman sekamar saya) langsung menuju Gelap Nyawang (sebuah daerah di belakang Salman ITB, banyak tempat makan) setelah saya menyelesaikan pengajian warga. Ketika melewati Kantin Salman, eh, nyangkut lagi, ada ibunya Kg Husni (yang besok mau nikah), adik & tantenya Kg Husni, & adiknya Teh Dian. Berhubung saya orang yang baik hati dan tidak sombong (:D), masa ga disapa. 5 menit berlalu dengan silaturahim dengan keluarga Kg Husni-Teh Dian. Alhasil, Dini, yang ga begitu kenal dengan mereka, nyangkut dengan hal yang lain. Seorang pengamen cilik, 1 anak perempuan usia SD & 1 anak perempuan lainnya yang lebih kecil. Ketika saya sudah selesai bersilaturahmi saya langsung memberi isyarat kepada Dini untuk terus menuju Gelap Nyawang tanpa menggubris 2 pengamen cilik itu. Tapi Dini, masih mengobrol dengan mereka. Mau tidak mau saya perhatikan isi obrolan mereka (apa sih yang bikin lama, heuu…).
Ternyata isi obrolan mereka adalah:
Pengamen cilik A (anak yang lebih besar) : Teh minta uang, Teh..
Dini : ngga mau ngasi uang ah, klo ikut makan aja gimana? Ikut makan aja yuk sekarang!
Pengamen A : eu…eu…(ragu-ragu antara kepengen makan sama mau dikasi uang aja)
Pengamen B : udah teh, ikut aja yuk…(suaranya pelan, bernegosiasi dengan Pengamen A)
Pengamen A : eu..eu…(masih bingung)
Pengamen A : yaudah deh…(akhirnya dia menyerah)

Dini : tapi dah pada sholat maghrib belom?

Pengamen A & B : eu..belum teh, hehe..(cengar-cengir malu)

Dini : oo..klo gitu mah sholat maghrib dulu, atau ga boleh ikut makan..

Pengamen A & B : eu..eu..ga bawa mukena teh…(nyari alesan ni..ckckckck..)

Dini : kan bisa minjem di Bu Idar, sholat dulu ya, minjem aja mukenanya di Bu Idar..

Ada temen kia pula yang ngebantu, Ratna Fisika Teknik 08, akhirnya dia yang nemenin anak-anak itu sholat. Dini memberi syarat ke Ratna agar menyusul ke tempat makan di Gelap Nyawang yang bernama F_stB_ke, hehe..

Baiklah, akhirnya saya dan Dini duluan ke tempat makan itu. Pesan makanan yang tak berapa lama kemudian datang. Niat saya untuk menyantap makanan itu lebih dulu terhenti dengan perkataan Dini, “Kita tunggu Ratna sama anak-anak itu dateng dulu ya…”. Heu..padahal perut ini dah orkestra dari tadi. Baiklah……..

Kami menunggu sambil melakukan sesuatu yang lain (yang sudah kami rencanakan sejak di asrama tadi, karena tempat makan yang kami tempati enak skali untuk baca buku atau kegiatan semacamnya). Dini membaca buku Tipping Point-nya, sedangkan saya menulis agenda-agenda yang akan saya kerjakan hingga hari senin pagi.

Mereka belum juga datang. Tapi ada teman kita satu orang lagi datang, Isan Najmi Arsitektur 07 yang akhirnya bergabung di meja kita.

Akhirnya beberapa menit kemudian Ratna datang membawa anak-anak itu.

Ratna : Ayo sekarang mo pesen apa?

Pengamen A : yang ini!

Pengamen B : yang itu!

Okelah kalo begitu.., semangat sekali mereka memilih makanan. Hehehe..

Sambil menunggu makanan kami mengobrol, akhirnya kami tau nama Pengamen A itu adalah Ega. Dan pengamen B yang kami kira adiknya ternyata adalah keponakannya yang bernama ….ngg..ng…lupa euy…(maaf ya dek…kakakmu ini terlalu banyak pikiran, halah..). Baiklah, kita sebut saja “Keponakan Ega” (PonGa), heu…nama yang aneh… @.@

Saat mengobrol tiba-tiba ada pengamen cilik yang cukup besar, hehe, agak gemuk maksutnya, kecrek-kecrek di sebelah kita. Ega menyahut, “Nah, klo ini kakak saya teh, namanya Sarip”

Oo…akhirnya Sarip pun ikut bergabung. Namun ketika ditanya Sarip mau pesen makanan apa dia bilang dia sudah makan. Biasanya anak yang agak gemuk seperti Sarip, ditawari makan pasti tidak akan menolak. Tapi lain halnya dengan Sarip. Dia tampak jujur dan menjawab sudah makan tadi sebelum ke sini.

Akhirnya makanan pun datang. Dini memesan minum satu gelas lagi untuk Sarip. Kemudian akhirnya kami mulai makan sambil tetap mengobrol. Oia, sebelum makan kami membaca do’a makan bersama-sama. Berasa kecil lagi nih, kadang-kadang kita yang sudah besar pun masih lupa membaca do’a sebelum makan. Hari ini kami mengingatkan diri kami sendiri.

Dalam obrolan kami, diketahui bahwa Sarip tidak bersekolah lagi (saat ditanya alasannya dia bilang tidak tahu) dan Ega bersekolah di dekat rumah mereka. Sarip dan Ega mempunyai seorang ibu (yang ternyata berada di Jalan Gelap Nyawang itu, ngga jelas lagi ngapain) dan seorang kakak perempuan yang bekerja di Surabaya. Saat ditanya “Kakaknya kerja apa di Surabaya?”, “Ngga tau..” jawab mereka. Kami bertanya Sarip tadi sudah solat belum dan Sarip menjawab belum. Lalu kami berkata setelah ini semuanya sholat isya ya. Lalu Ega menjawab, “Iya ya, kan udah dikasi makan, jadi kita sholat isya”, saya dan Dini buru-buru meralat, “Bukan gara-gara dikasi makan jadi sholat isya, semua orang Islam wajib sholat,”. Waduh, piye iki?!

Setelah selesai makan, kami mau membayar, saya dan Dini berencana patungan untuk membayar makan-makan kali itu. Tapi ternyata Ratna yang membayar semuanya. Whoaaaaaa! Senangnyaaaa! hehehe….. Rupanya Ratna baru menang lomba catur dan dapet uang dari situ. Makan-makan kali ini jadi syukuran Ratna. Jazakillah khayran katsir…😀

Sholat gerhana di mesjid sudah selesai. Karena kami semua berhalangan jadi tidak sempat merasakan sholat gerhana malam itu. Tapi tak apalah, ada hikmah lain yang bisa kami ambil malam ini. Adzan isya berkumandang. Kami menuju masjid untuk mengantar adik-adik itu sholat untuk memastikan mereka benar-benar sholat. Sarip mulai beralasan tidak membawa sarung. Kami meyakinkan sarungnya bisa minjem. Akhirnya dia mau ikut sholat.

Sarip meminjam sarung di tempat penitipan sepatu ikhwan, memperlihatkan sarungnya kepada kami, lalu mengangguk dan masuk ke dalam masjid. Hehehe….lucu juga dia, meyakinkan kami bahwa dia akan benar-benar sholat. Okelah dek!

Dini membawa Ega dan PonGa (sekali lagi, ini nama yang aneh) ke tempat wudhu akhawat. Dini mengajarkan urutan berwudhu. Sambil terus mengoceh mereka mengikuti apa yang Dini ajarkan.

Setelah berwudhu mereka ternyata terlalu lama berwudhu hingga kalah cepat dengan peminjam mukena lainnya. Terpaksa mereka harus menunggu. Sambil duduk-duduk di tangga masjid, ada anak FK Unpad 2007 yang tertarik dengan interaksi kami dengan anak-anak itu. Akhirnya kami mengobrol-ngobrol sebentar.

Setelah sholat jama’ah isya selesai, anak-anak itu kami panggil untuk cepat meminjam mukena. Sambil takut-takut Ega dan PonGa (tetep nama yang aneh) celingukan, bingung mau minjem mukena siapa. Bingung juga, yang mana mukena masjid yang mana yang bukan. Akhirnya saya menunjuk kepada salah satu teteh di shaf depan yang mukenanya kelihatan seperti mukena Salman (sotoy euy, hehe). Saya berbisik kepada Ega,”Pinjem teteh yang itu tuh, bilang ‘Teh, boeh pinjem mukenanya ga?’ bilang yang bagus ya”. Kemudian dia melakukan seperti yang saya minta. Teteh tersebut menjawab dengan baik “Boleh, ini punya Salman kok” sambil tersenyum. Yes, 1 mukena dapet. Tinggal 1 lagi buat PonGa (aneh, benar-benar aneh). Saya melakukan hal yang sama kepada PonGa (aneh, heuu..). Tapi ternyata Dini sudah mengambilkan mukena yang ukurannya kecil dan cocok untuk PonGa (aneh pisun).

Baiklah, mereka akhirnya sholat. Kami menunggu bersama Sarip yang telah selesai sholat dan memakai sarungnya seperti kura-kura ninja. Jiiiaaaah!

Sarip bercerita (seteah kami tanya-tanya tentunya) bahwa dia dan adiknya tidak bisa langsung pulang setelah sholat. Mereka harus mencari uang sekitar dua puluh ribu lagi, atau setidaknya sepuluh ribu lagi. Mereka disuruh oleh ibu mereka sendiri. Ya Allah, masa ibu sendiri mempekerjakan anak-anaknya mencari uang sampai semalam itu?

Lalu, kami memastikan Sarip tidak ngelem (menghirup lem aibon untuk mendapatkan sensasi fly, persis sama fungsinya dengan narkoba, hanya saja mereka tidak perlu membeli semahal narkoba, cukup dengan meminta kaleng lem aibon bekas dari bengkel). Kami bertanya itu karena kami curiga dari bau lem di sekitar badan Sarip. Semoga saja dia tidak berbohong. Tapi dia berkata bahwa banyak teman-temannya yang ngelem. Ya Allah, miris sekali anak-anak itu, semoga saja mereka sadar, dan ngga jadi sampah masyarakat.

Akhirnya kami berpisah, mereka harus mencari uang lagi sebelum pulang. Kami hanya dapat berkata hati-hati. Kami tidak memberi uang sepeser pun karena kami takut, orang tua mereka terus-menerus memanfaatkan keadaan mereka. Kami hanya bisa memenuhi kebutuhan makan mereka malam itu (itu juga dibayarin Ratna, hehe). Hati-hati ya Dek, sholat yang rajin, bawa sarung sama mukena, kalo ngga ada bisa minjem di Salman. Kalo sudah besar dan bisa hidup mandiri lebih baik pisah dengan orang tua. Jangan mau dimanfaatkan untuk hal-hal yang buruk, termasuk mencari nafkah dengan cara meminta-minta. Lebih baik bekerja apa saja yang penting halal.

Waaaaahhhh! Walaupun kami tidak dapat merasakan nikmatnya sholat gerhana, kami masih diberi kesempatan melihat pelajaran lain. Semoga Allah terus-menerus memberikan rahmat dan hidayahnya kepada anak-anak seperti mereka, juga kepada orang tuanya. Agar mereka dapat bertahan hidup dengan cara-cara yang baik.

Semangat, Dek!😀





Nothing is wasted from a great effort

29 06 2010

“Dan tiap-tiap orang memperoleh derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-An’ aam : 132).

“Dan setiap mereka mendapat derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan pekerjaan mereka sedang mereka tidak dirugikan.” (Al¬Ahqaaf : 19).

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
QS. al-‘Ankabut (29) : 6

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
QS. al-Mulk (67) : 2

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
QS. al-Hajj (22) : 78

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
QS. al-Baqarah (2) : 177

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
QS. al-Baqarah (2) : 265

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu.
QS. an-Naml (27) : 89

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
QS. al-Baqarah (2) : 110

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
QS. Ali Imran (3) : 200

“Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)

“…Bekerjalah hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.
QS. Saba’ (34) : 13

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
QS. al-Mulk (67) : 15

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.
QS. al-Jumu’ah (62) : 10

Hanya segelintir peringatan dan janji Allah kepada kita, semoga bisa menjadi pengingat dan penyemangat

Tabiat seorang muslim sejati adalah terus beramal, diam tanpa amal adalah aib bagi seorang muslim

Ga ada yang sia-sia dari setiap amal yang kita lakukan

Allah cuma pengen liat kita bersungguh-sungguh dalam setiap prosesnya

SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

😀

–dari berbagai sumber–





Menjadi Pasti, Menjadi Relatif

28 06 2010

Menjadi pertama itu pasti, menjadi berani itu relatif

Menjadi lelah itu pasti, menjadi ikhlas itu relatif

Menjadi menang itu pasti, menjadi tawadu’ itu relatif

Menjadi indah itu pasti, menjadi wangi itu relatif

Menjadi tua itu pasti, menjadi baik itu relatif

Menjadi hidup itu pasti, menjadi manfaat itu relatif

Menjadi mati itu pasti, menjadi sejarah itu relatif








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.