Sirah Nabawiyah dalam Konteks Problematika Umat Saat Ini

8 06 2010

Kajian ini dibawakan oleh Ustadz Suherman dalam acara Pengajian Warga Ganesha yang diadakan pada tanggal 29 Mei 2010 oleh Divisi Eksternal Keluarga Aktivis Masjid Salman ITB periode 2009-2010, semoga bermanfaat🙂

(Notulen : Arinda & Yasrina)

–Mohon maaf atas kesalahan dalam penulisan yang mungkin terjadi–

Contoh problematika umat saat ini:

  • Wanita lebih rendah dari makanan
  • Ekonomi hanya berputar pada orang-orang yang kaya dan punya jabatan
  • ‘Tuhan’ zaman sekarang adalah jabatan dan manusia (baik laki-laki maupun perempuan)

Manusia diberikan kelebihan oleh Allah SWTàakal

Teladani Rasulullahà’Contek’ seluruh aspek yang dicontohkan Rasulullah

Manusia memang serba salah, ketika tidak boleh mencontek waktu ujian misalnya malah mencontek, ketika Allah meminta kita untuk ‘mencontek’ Rasulullah sulit sekali.

Untuk para wanita (analogi yang sedikit aneh dari ustadz) :

Jadilah seperti kue brownies, tidak diizinkan dipegang dan dicicipi sebelum dibayar, harganya pun mahal. Jangan seperti cireng atau bala-bala yang harganya murah dan boleh dipegang-pegang untuk memilih yang masih hangat dan garing.

Jika semua orang memahami agamanya, maka dengan sendirinya akan memahami dan akan menjadikan semua yang dilakukannya bernilai ibadah di hadapan Allah SWT, contoh : belajar, bekerja, membereskan rumah, dsb.

Jika semua orang memahami semua yang dimilikinya saat ini adalah milik Allah SWT, maka dengan sendirinya akan memahami aturan Si Empunya Barang akan perbuatan kita terhadap pinjaman tersebut.

Rasulullah mengatasi permasalahan umatnya dengan :

  1. Memperbaiki akidah umatnya
  2. Memahamkan umatnya akan agamanya
  3. Mempersaudarakan sesama umatnya
  4. Memperhatikan pemberdayaan perekonomian umatnya

Seperti cerita Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Usaid, ketika Usaid dengan tangan terbuka menerima dan mencintai Abdurrahman sampai separuh harta dan istrinya rela ia berikan, Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan arah jalan menuju pasar.

Begitupula dengan cerita perebutan sumur pada zaman Rasulullah, pada masa itu sumur yang menjadi kebutuhan utama umat muslim dikuasai oleh Yahudi. Seluruh orang yang ingin mengambil air dari sumur tersebut harus membayar dengan mahal. Ketika umat muslim tidak sanggup lagi mereka mengadu kepada Rasulullah agar Rasulullah melakukan sesuatu terhadap sumur tersebut untuk kepentingan umat muslim. Rasulullah menawarkan kepada sahabat-sahabat Rasulullah siapa yang sanggup membeli sumur tersebut dari tangan Yahudi. Akhirnya Ustman bin Affan pun menyanggupi. Dengan ditemani oleh Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib (kayaknya, lupa euy…), maka Ustman pun menemui Yahudi pemilik sumur tersebut. Menyadari betapa membutuhkannya umat muslim akan sumur tersebut, maka Yahudi itupun dengan tegas menolak menjualnya. Akhirnya Ustman menyusun rencana berikutnya, niatnya kali ini bukan untuk membeli sumur, tapi hanya menyewanya saja. Sang Yahudi pun membolehkan dengan syarat hanya 3 hari (1 kali kesempatan per dua hari) dari seminggu dan itupun hanya boleh menggunakan pada malam hari saja. Namun, hal tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kaum muslimin. Setiap malam dimana sumur tersebut menjadi hak kaum muslimin, mereka berbondong-bondong membawa tempat air dan memenuhi cadangannya hingga cukup untuk 3 hari, pada hari selanjutnya dimana kaum Yahudilah yang menguasai sumur, tidak ada kaum muslimin yang membeli air di sumur. Lama kelamaan Yahudi itupun merugi karena tidak ada yang membeli. Pada saat itulah, Ustman menawarkan kembali kepada Yahudi tersebut untuk membeli sumur tersebut. Yahudi tersebut berpikir ada baiknya ia mengambil kesempatan tersebut, daripada ia mengalami kerugian lebih baik ia menerima tawaran tersebut. Yahudi tersebut tetap ingin mengambil keuntungan dari penjualan sumur tersebut dengan menentukan harga jualnya, yaitu sama seperti harga jual yang ia katakan dulu. Akhirnya Ustman pun membeli sumur tersebut. Sejak saat itu sumur tersebut dipergunakan untuk kepentingan umat muslim.

Dalam cerita tersebut sumur diasosiasikan sebagai sumber penghidupan masyarakat, sebagai kebutuhan primer yang tidak dapat digantikan, dan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Seperti sistem ekonomi, ketika sesuatu hal yang merupakan kepentingan masyarakat diprivatisasi dan dikomersialisasi maka bukan kemakmuranlah yang didapat, melainkan kesengsaraan masyarakat.

Umat Islam seharusnya :

  1. Hidup bernilai ibadah
  2. Sebagai khalifah
  3. Menciptakan ukhuwah (persaudaraan karena Islam)
  4. Menguasai politik dan ekonomi

Oleh karena itu, yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah :

  1. Belajar
  2. Lupakan perbedaan
  3. Belajar mandiri
  4. Memilih pemimpin yang jujur dan amanah

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: