Malam (Berbagi) Gerhana

30 06 2010

26 Juni 2010
Sore itu setelah saya menyelesaikan amanah saya di pengajian warga ganesha, pikiran saya tidak berhenti berpikir (seperti to do list yang ada di komputer) tentang agenda-agenda berikutnya yang harus saya selesaikan malam itu. Berhubung besok pagi ada pernikahan anak asrama (Kg Husni & Teh Dian) di Salman jadi pasti riweuh. Senin paginya kudu asistensi TA sama dosen pembimbing, ga boleh telat, & harus menyelesaikan semua kekurangan yang dicatat oleh dosen pembimbing. Fiuuhh…(tidak boleh mengeluh, heuuu… :D)
Makan-beliin susu buat Eka (seorang teman di asrama nitip beli susu bantal)-fitting baju pager ayu-rapat OL SR sambil ngerjain revisi TA. Pokoknya intinya malem itu niat mulianya kepingin bergadang sambil menyelesaikan semuanya.
Oleh karena itu, saya & Dini (teman sekamar saya) langsung menuju Gelap Nyawang (sebuah daerah di belakang Salman ITB, banyak tempat makan) setelah saya menyelesaikan pengajian warga. Ketika melewati Kantin Salman, eh, nyangkut lagi, ada ibunya Kg Husni (yang besok mau nikah), adik & tantenya Kg Husni, & adiknya Teh Dian. Berhubung saya orang yang baik hati dan tidak sombong (:D), masa ga disapa. 5 menit berlalu dengan silaturahim dengan keluarga Kg Husni-Teh Dian. Alhasil, Dini, yang ga begitu kenal dengan mereka, nyangkut dengan hal yang lain. Seorang pengamen cilik, 1 anak perempuan usia SD & 1 anak perempuan lainnya yang lebih kecil. Ketika saya sudah selesai bersilaturahmi saya langsung memberi isyarat kepada Dini untuk terus menuju Gelap Nyawang tanpa menggubris 2 pengamen cilik itu. Tapi Dini, masih mengobrol dengan mereka. Mau tidak mau saya perhatikan isi obrolan mereka (apa sih yang bikin lama, heuu…).
Ternyata isi obrolan mereka adalah:
Pengamen cilik A (anak yang lebih besar) : Teh minta uang, Teh..
Dini : ngga mau ngasi uang ah, klo ikut makan aja gimana? Ikut makan aja yuk sekarang!
Pengamen A : eu…eu…(ragu-ragu antara kepengen makan sama mau dikasi uang aja)
Pengamen B : udah teh, ikut aja yuk…(suaranya pelan, bernegosiasi dengan Pengamen A)
Pengamen A : eu..eu…(masih bingung)
Pengamen A : yaudah deh…(akhirnya dia menyerah)

Dini : tapi dah pada sholat maghrib belom?

Pengamen A & B : eu..belum teh, hehe..(cengar-cengir malu)

Dini : oo..klo gitu mah sholat maghrib dulu, atau ga boleh ikut makan..

Pengamen A & B : eu..eu..ga bawa mukena teh…(nyari alesan ni..ckckckck..)

Dini : kan bisa minjem di Bu Idar, sholat dulu ya, minjem aja mukenanya di Bu Idar..

Ada temen kia pula yang ngebantu, Ratna Fisika Teknik 08, akhirnya dia yang nemenin anak-anak itu sholat. Dini memberi syarat ke Ratna agar menyusul ke tempat makan di Gelap Nyawang yang bernama F_stB_ke, hehe..

Baiklah, akhirnya saya dan Dini duluan ke tempat makan itu. Pesan makanan yang tak berapa lama kemudian datang. Niat saya untuk menyantap makanan itu lebih dulu terhenti dengan perkataan Dini, “Kita tunggu Ratna sama anak-anak itu dateng dulu ya…”. Heu..padahal perut ini dah orkestra dari tadi. Baiklah……..

Kami menunggu sambil melakukan sesuatu yang lain (yang sudah kami rencanakan sejak di asrama tadi, karena tempat makan yang kami tempati enak skali untuk baca buku atau kegiatan semacamnya). Dini membaca buku Tipping Point-nya, sedangkan saya menulis agenda-agenda yang akan saya kerjakan hingga hari senin pagi.

Mereka belum juga datang. Tapi ada teman kita satu orang lagi datang, Isan Najmi Arsitektur 07 yang akhirnya bergabung di meja kita.

Akhirnya beberapa menit kemudian Ratna datang membawa anak-anak itu.

Ratna : Ayo sekarang mo pesen apa?

Pengamen A : yang ini!

Pengamen B : yang itu!

Okelah kalo begitu.., semangat sekali mereka memilih makanan. Hehehe..

Sambil menunggu makanan kami mengobrol, akhirnya kami tau nama Pengamen A itu adalah Ega. Dan pengamen B yang kami kira adiknya ternyata adalah keponakannya yang bernama ….ngg..ng…lupa euy…(maaf ya dek…kakakmu ini terlalu banyak pikiran, halah..). Baiklah, kita sebut saja “Keponakan Ega” (PonGa), heu…nama yang aneh… @.@

Saat mengobrol tiba-tiba ada pengamen cilik yang cukup besar, hehe, agak gemuk maksutnya, kecrek-kecrek di sebelah kita. Ega menyahut, “Nah, klo ini kakak saya teh, namanya Sarip”

Oo…akhirnya Sarip pun ikut bergabung. Namun ketika ditanya Sarip mau pesen makanan apa dia bilang dia sudah makan. Biasanya anak yang agak gemuk seperti Sarip, ditawari makan pasti tidak akan menolak. Tapi lain halnya dengan Sarip. Dia tampak jujur dan menjawab sudah makan tadi sebelum ke sini.

Akhirnya makanan pun datang. Dini memesan minum satu gelas lagi untuk Sarip. Kemudian akhirnya kami mulai makan sambil tetap mengobrol. Oia, sebelum makan kami membaca do’a makan bersama-sama. Berasa kecil lagi nih, kadang-kadang kita yang sudah besar pun masih lupa membaca do’a sebelum makan. Hari ini kami mengingatkan diri kami sendiri.

Dalam obrolan kami, diketahui bahwa Sarip tidak bersekolah lagi (saat ditanya alasannya dia bilang tidak tahu) dan Ega bersekolah di dekat rumah mereka. Sarip dan Ega mempunyai seorang ibu (yang ternyata berada di Jalan Gelap Nyawang itu, ngga jelas lagi ngapain) dan seorang kakak perempuan yang bekerja di Surabaya. Saat ditanya “Kakaknya kerja apa di Surabaya?”, “Ngga tau..” jawab mereka. Kami bertanya Sarip tadi sudah solat belum dan Sarip menjawab belum. Lalu kami berkata setelah ini semuanya sholat isya ya. Lalu Ega menjawab, “Iya ya, kan udah dikasi makan, jadi kita sholat isya”, saya dan Dini buru-buru meralat, “Bukan gara-gara dikasi makan jadi sholat isya, semua orang Islam wajib sholat,”. Waduh, piye iki?!

Setelah selesai makan, kami mau membayar, saya dan Dini berencana patungan untuk membayar makan-makan kali itu. Tapi ternyata Ratna yang membayar semuanya. Whoaaaaaa! Senangnyaaaa! hehehe….. Rupanya Ratna baru menang lomba catur dan dapet uang dari situ. Makan-makan kali ini jadi syukuran Ratna. Jazakillah khayran katsir…😀

Sholat gerhana di mesjid sudah selesai. Karena kami semua berhalangan jadi tidak sempat merasakan sholat gerhana malam itu. Tapi tak apalah, ada hikmah lain yang bisa kami ambil malam ini. Adzan isya berkumandang. Kami menuju masjid untuk mengantar adik-adik itu sholat untuk memastikan mereka benar-benar sholat. Sarip mulai beralasan tidak membawa sarung. Kami meyakinkan sarungnya bisa minjem. Akhirnya dia mau ikut sholat.

Sarip meminjam sarung di tempat penitipan sepatu ikhwan, memperlihatkan sarungnya kepada kami, lalu mengangguk dan masuk ke dalam masjid. Hehehe….lucu juga dia, meyakinkan kami bahwa dia akan benar-benar sholat. Okelah dek!

Dini membawa Ega dan PonGa (sekali lagi, ini nama yang aneh) ke tempat wudhu akhawat. Dini mengajarkan urutan berwudhu. Sambil terus mengoceh mereka mengikuti apa yang Dini ajarkan.

Setelah berwudhu mereka ternyata terlalu lama berwudhu hingga kalah cepat dengan peminjam mukena lainnya. Terpaksa mereka harus menunggu. Sambil duduk-duduk di tangga masjid, ada anak FK Unpad 2007 yang tertarik dengan interaksi kami dengan anak-anak itu. Akhirnya kami mengobrol-ngobrol sebentar.

Setelah sholat jama’ah isya selesai, anak-anak itu kami panggil untuk cepat meminjam mukena. Sambil takut-takut Ega dan PonGa (tetep nama yang aneh) celingukan, bingung mau minjem mukena siapa. Bingung juga, yang mana mukena masjid yang mana yang bukan. Akhirnya saya menunjuk kepada salah satu teteh di shaf depan yang mukenanya kelihatan seperti mukena Salman (sotoy euy, hehe). Saya berbisik kepada Ega,”Pinjem teteh yang itu tuh, bilang ‘Teh, boeh pinjem mukenanya ga?’ bilang yang bagus ya”. Kemudian dia melakukan seperti yang saya minta. Teteh tersebut menjawab dengan baik “Boleh, ini punya Salman kok” sambil tersenyum. Yes, 1 mukena dapet. Tinggal 1 lagi buat PonGa (aneh, benar-benar aneh). Saya melakukan hal yang sama kepada PonGa (aneh, heuu..). Tapi ternyata Dini sudah mengambilkan mukena yang ukurannya kecil dan cocok untuk PonGa (aneh pisun).

Baiklah, mereka akhirnya sholat. Kami menunggu bersama Sarip yang telah selesai sholat dan memakai sarungnya seperti kura-kura ninja. Jiiiaaaah!

Sarip bercerita (seteah kami tanya-tanya tentunya) bahwa dia dan adiknya tidak bisa langsung pulang setelah sholat. Mereka harus mencari uang sekitar dua puluh ribu lagi, atau setidaknya sepuluh ribu lagi. Mereka disuruh oleh ibu mereka sendiri. Ya Allah, masa ibu sendiri mempekerjakan anak-anaknya mencari uang sampai semalam itu?

Lalu, kami memastikan Sarip tidak ngelem (menghirup lem aibon untuk mendapatkan sensasi fly, persis sama fungsinya dengan narkoba, hanya saja mereka tidak perlu membeli semahal narkoba, cukup dengan meminta kaleng lem aibon bekas dari bengkel). Kami bertanya itu karena kami curiga dari bau lem di sekitar badan Sarip. Semoga saja dia tidak berbohong. Tapi dia berkata bahwa banyak teman-temannya yang ngelem. Ya Allah, miris sekali anak-anak itu, semoga saja mereka sadar, dan ngga jadi sampah masyarakat.

Akhirnya kami berpisah, mereka harus mencari uang lagi sebelum pulang. Kami hanya dapat berkata hati-hati. Kami tidak memberi uang sepeser pun karena kami takut, orang tua mereka terus-menerus memanfaatkan keadaan mereka. Kami hanya bisa memenuhi kebutuhan makan mereka malam itu (itu juga dibayarin Ratna, hehe). Hati-hati ya Dek, sholat yang rajin, bawa sarung sama mukena, kalo ngga ada bisa minjem di Salman. Kalo sudah besar dan bisa hidup mandiri lebih baik pisah dengan orang tua. Jangan mau dimanfaatkan untuk hal-hal yang buruk, termasuk mencari nafkah dengan cara meminta-minta. Lebih baik bekerja apa saja yang penting halal.

Waaaaahhhh! Walaupun kami tidak dapat merasakan nikmatnya sholat gerhana, kami masih diberi kesempatan melihat pelajaran lain. Semoga Allah terus-menerus memberikan rahmat dan hidayahnya kepada anak-anak seperti mereka, juga kepada orang tuanya. Agar mereka dapat bertahan hidup dengan cara-cara yang baik.

Semangat, Dek!😀


Actions

Information

One response

25 07 2010
reZa pH

waktu itu saya lagi di planetarium untuk neropong.
tapi gak sholat juga =(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: