Kemiskinan Kreativitas

26 04 2010

Tulisan yang pernah dikirim oleh saya sebagai syarat mengikuti Forum Indonesia Muda angkatan 6 tahun 2008:

Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Oleh karena itu, manusia diberikan suatu kelebihan, yaitu akal. Dengan akal manusia dapat belajar, berpikir, dan berkreasi. Mulai dari menemukan suatu resep masakan yang baru, cara menggambar yang baru, rumus baru, hingga pada suatu sistem yang baru yang merubah kondisi hidup orang banyak.

Pada hakikatnya proses belajar, proses berpikir, dan proses kreasi adalah nama yang berbeda bagi suatu proses yang sama, yaitu proses imajinasi. Perbedaannya hanyalah dalam gradasi proses dan hasil kreasinya. Proses belajar, berpikir, berkeasi, berimajinasi, dan membentuk memori adalah proses yang berlangsung secara serempak (simultan). Proses ini disebut berpikir total atau berpikir integral. Hal tersebut terjadi karena adanya integrasi kerjasama semua sistem indera manusia. Kemampuan tersebut sebenarnya secara alamiah dimiliki setiap manusia. Tetapi kemampuan tersebut dapat rusak apabila manusia tersebut salah didik.

Sistem pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia bersifat mematikan kreativitas anak. Anak yang seharusnya memiliki ke-khas-an ’gambar anak’nya masing-masing, begitu anak tersebut masuk ke sekolah malah menghilangkan ke-kreativitas-annya. Sistem pendidikan yang salah tersebut masih diterapkan sampai sekarang dan sulit untuk diubah. Parahnya, kesalahan sistem tersebut dimulai dari tingkat paling bawah (Taman Kanak-kanak) hingga yang paling tinggi (Perguruan Tinggi).

Pada taman kanak-kanak, anak-anak diajarkan bagaimana cara mewarnai yang benar, bagaimana cara menggambar yang benar, dan cara-cara yang ’benar’ lainnya menurut versi guru-guru TK tersebut. Lomba-lomba menggambar yang sering diadakan di mana-mana juga mengalami kesalahan yang fatal dalam penilaiannya. Juara 1 dipilih berdasarkan kerealitasan gambar yang dibuat, bahwa menggambar rumah harus mirip dengan rumah, menggambar mobil harus mirip dengan mobil, menggambar orang harus mirip dengan orang, dan seterusnya. Contoh lainnya adalah jika seluruh anak di Indonesia disuruh menggambar pemandangan, pasti yang tergambar di benak setiap anak Indonesia adalah pemandangan dengan dua gunung yang berjajar, dengan jalan di tengah sawah, dengan matahari di tengah dan awan di pinggir-pinggirnya.

Kenapa bisa seperti itu? Kenapa dalam benak setiap anak Indonesia ter-frame gambar dengan format yang seragam seperti itu?

Itu semua karena pola didik yang kurang tepat. Anak tidak dibiarkan menggambar rumah, mobil, orang dan pemandangan versi dirinya sendiri, tetapi malah diarahkan dan dibatasi pada satu aturan yang seolah-olah ‘tidak dapat berubah lagi’ dan ‘memang begitu seharusnya’. Anak tidak dibiarkan mencari dan menemukan bentuknya sendiri, tetapi malah dipaksa berubah menjadi bentuk yang diinginkan oleh si pengajarnya. Guru-gurunya bukan membebaskan berkreasi sesuai dengan kreativitas si anak, tetapi malah mengajarkan, mencontohkan, dan mem’benar’kan jika ada yang ‘salah’, ‘keluar jalur’, atau yang ‘berbeda’ dengan anak-anak yang lain. Seolah-olah semua yang diajarkan adalah benar dan yang selainnya adalah salah. Seolah-olah si anak adalah program komputer yang jika di-input dengan perintah yang sama harus menghasilkan output yang sama pula. Padahal setiap manusia yang lahir ke dunia memiliki bakatnya masing-masing, memiliki potensi masing-masing, dan memiliki kemampuan berkreativitas masing-masing. Padahal bakat, potensi, dan kreativitas dalam diri setiap anak tidak dapat dipaksakan. Padahal bakat, potensi, dan kreativitas dalam diri setiap anak dapat berkembang dengan baik seandainya saja tidak mengalami salah didik. Salah didik inilah yang menyebabkan kita terlalu membedakan proses belajar dengan proses berpikir, dengan proses berkreasi, dengan proses imajinasi, dan dengan proses membentuk memori. Seakan semua proses tersebut berbeda satu sama lain. Itu pula sebabnya kita cenderung untuk biasa berpikir konvensional, standard, dan berdasarkan sumber yang sudah ada sebelumnya. Otak kita sangat tergantung dengan stimuli luar (apa yang dikatakan buku, apa yang dikatakan dosen, dsb) dan kurang percaya dengan stimuli dalam (pendapatnya sendiri). Ini semua yang menyebabkan manusia zaman sekarang cenderung untuk berpikir sektoral:

– Mementingkan stimuli luar daripada stimuli dalam

– Mementingkan satu ilmu walaupun memiliki banyak ilmu

– Mementingkan rasio walaupun memiliki sifat kreatif

Krisis kreativitas rupanya sudah lama menjadi masalah di Indonesia. Ries Mulder berusaha memperluas cakrawala mahasiswa-mahasiswanya selama tahun 1950-an. Mulder memperkenalkan seni abstrak pada saat seni figurative atau nasionalis dipromosikan oleh Presiden Soekarno dan pemerintah Indonesia. Ketika para pelukis Bandung memamerkan karya lukisan mereka di Jakarta pada tahun 1954, kritikus seni Indonesia, Trisno Sumardjo, secara mengejek menyebut Bandung sebagai “Laboratorium Barat”. Ia menganggap rendah ciri barat pada karya-karya yang dibuat oleh para seniman Indonesia di Bandung dibandingkan karya-karya yang realistis dan kemasyarakatan dari para seniman Yogyakarta. Seniman-seniman Yogyakarta pada masa itu sudah dianggap bisa menghasilkan karya-karya lukisan yang dapat mewakili sebagai karya khas Indonesia. Sedangkan seniman-seniman lain masih mencari-cari jati dirinya masing-masing.

Kasus di atas masih sangat banyak dijumpai pada zaman sekarang. Di saat komik-komik Jepang tumbuh subur dan beredar di mana-mana, para komikus Indonesia beramai-ramai membuat komik-komik Indonesia yang karakternya, figurnya, gaya bahasanya, bahkan gesture tokoh-tokohnya amat sangat mirip dengan komik-komik Jepang. Demikian pula halnya dengan dunia film, banyak film-film Indonesia yang meniru film-film asing, sehingga banyak bermunculan film-film plagiat di mana-mana.

Fenomena ’kemiskinan kreativitas’ ini sangat tergambar jelas pada generasi zaman sekarang. Dimana segala sesuatu hal yang berasal dari ’barat’ dianggap lebih bagus dan lebih modern. Dimana ‘barat’ dijadikan standardisasi segala hal. Dimana segala hal dibuat jadi instant. Dimana ’nyontek’ sudah menjadi budaya. Bahkan seorang dosen pun ‘menyontek’. Cerita ini saya dapatkan dari teman saya: seorang dosen perguruan tinggi swasta di Bandung tega ‘menyontek’ ide karya kelompok teman saya (mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bandung). Waktu ditanya alasan dosen tersebut ‘menyontek’, jawabannya karena mereka masih mahasiswa, jadi ide-idenya masih belum dapat hak cipta atau hak patennya. Jadi intinya dosen tersebut berpendapat bahwa ide-ide yang dihasilkan oleh orang yang bukan professional (dalam hal ini mahasiswa) boleh ditiru/dicontek. Dalam kasus ini kita dapat melihat betapa parahnya ’kemiskinan kreativitas’ di Indonesia sampai-sampai seorang dosen bisa mempunyai pikiran seperti itu. Jika seorang dosen saja berpikiran seperti itu, bagaimana dengan mahasiswanya?

Fenomena ’kemiskinan kreativitas’ seperti kasus-kasus di atas akan mengakibatkan tidak adanya kepedulian terhadap ide & hasil karya orang lain. Kebiasaan malas untuk berpikir kreatif akan menghasilkan generasi-generasi instant yang hanya mau berpikir praktis dan mudahnya saja. Disinilah pentingnya pendidikan yang benar yang seharusnya sudah diterapkan sejak dini. Pendidikan yang benar-benar menghargai dan merawat kreativitas setiap anak agar tumbuh subur dan berguna untuk hidupnya di masa datang. Agar dia nantinya menjadi manusia yang kreatif, memiliki pemahaman yang menyeluruh karena semua yang dia pahami adalah berdasarkan pengalaman dan eksperimen-eksperimennya sendiri, sehingga dia akan mampu bertahan hidup dalam keadaan apapun.

Ilmu tentang proses belajar, berpikir, berkreasi, dan pada hakikatnya bernama proses imajinasi saya dapatkan di seni rupa. Alhamdulillah, walaupun terlambat tapi saya baru merasakan beginilah seharusnya cara saya belajar sejak dulu. Saya baru mengerti, itulah sebabnya, pelajaran-pelajaran yang telah saya pelajari sejak TK sampai SMA langsung hilang dalam beberapa bulan saja ketika saya sudah lulus SMA dan tidak lagi belajar tentang pelajaran-pelajaran tersebut.

Belajar dengan cara memanfaatkan proses kreasi/ proses imajinasi dalam otak untuk kemudian di-trigger/ dirangsang agar otak mencari penyelesaian masalah dengan caranya sendiri, berpikir seluas-luasnya, sehingga otak kita dituntut untuk berpikir out of the box. Jika otak kita terbiasa dan terlatih untuk berpikir seperti itu, maka dengan sendirinya proses kreasi/proses imajinasi berjalan dengan baik dalam otak kita, sehingga dapat menghasilkan gagasan-gagasan/ide-ide yang baru dan tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

Begitulah seharusnya kita menggunakan otak kita, karena otak kita termanfaatkan secara optimal, dengan cara itulah kita mensyukuri apa yang telah Allah berikan, karena kemampuan otak manusia yang sesungguhnya adalah luar biasa, sesuai dengan yang menciptakannya, yaitu Yang Maha Luar Biasa.

DAFTAR PUSTAKA

Affendi, Yusuf dkk. 2002. Indonesian Heritage Jilid 7: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Gollwitzer, Gerhard. 1986. Menggambar Bagi Pengembangan Bakat. Bandung: Penerbit ITB.

Putra, Dr. Ir. Ichsan S. dan Ariyanti Pratiwi, S. Si. Strategi Sukses di Kampus. Bandung: Penerbit ITB.

Tabrani, Primadi. 2000. Proses Kreasi, Apresiasi, Belajar. Bandung: Penerbit ITB.


Actions

Information

5 responses

29 04 2010
reZa pH

OOT:
Loh, ternyata ada blog saya…
Yawda, saya link balik deh =D

Eh, referensinya dari Pak Prim ya?
Masih ngajar kan?
Beliau dosen favorit saya pas TPB. hoho

2 05 2010
arindaap

iya, pak prim subhanallah pemikiran dan cita2nya, emang reza diajar pak prim as kapan?mata kuliah apa?
waktu itu katanya pak prim masih sakit, dirawat di rumah sakit, tapi ga tau dah sembuh ato belom

3 05 2010
reZa pH

pas semester 1,,
mata kuliah Pengantar Studi Seni Rupa (PSSR) I

waa,, semoga segera diberi kesembuhan…
sekarang beliau ngajar apa?

3 05 2010
arindaap

oia ya, ini peha ya?kirain reza mana, heu…
arsi dapet PSSR juga ya?sip2
masih ngajar PSSR..

3 05 2010
reZa pH

iya =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: