Berawal pada Kamis malam, 16 September 2010, saat kami sedang menyiapkan makan malam di asrama. Berhubung kami sedang lapar-laparnya, dan saat itu adalah H+6 lebaran, dimana warung-warung makanan masih sedikit yang sudah buka, maka kami memutuskan untuk memasak apa yang ada. Keputusan tersebut kami ambil karena kami meyakini (halah) berdasarkan pengalaman sehari sebelumnya (H+5 lebaran) kami pun mencoba memasak apa yang ada. Dan hasilnya :
Sate bandeng yang dibawa Hana, ulen yang dibawa Teh Iin, telur dadar, tepung goreng (agak maksa, tapi enak kok
Alhamdulillah masih bisa makan enak
Berdasarkan pengalaman ‘makan enak dari apa yang ada di dapur’ itulah yang membuat kami yakin bisa makan enak juga di H+6 lebaran. Ingin mengulang kesuksesan. Hehe…
Tidak seperti H+5 yang hanya saya, Hana, Teh Iin, dan Mbak Rini yang baru pulang ke asrama, di H+6 beberapa orang juga telah pulang ke asrama. Kami membagi-bagi tugas memasak hari itu. Dini ingin masak sop dan Nutrisari Jelly yang dibeli sore hari itu. Hana mempersiapkan bahan-bahan. Saya masak nasi liwet dan membuat sambal. Teh Iin menggoreng ulen dan membuat telur dadar. Dan alhamdulillah Cily datang dan membawa ikan balado yang dibawa dalam sebuah botol Aqua ukuran 600 ml (???, ibunya Cily benar-benar super, gimana masukinnya coba?).
Tragedi ini pun dimulai saat Teh Iin sedang mengecek kondisi telur-telur. Berhubung telur yang kami pakai adalah telur dari jaman masak-memasak di bulan Ramadhan, jadi pasti ada yang membusuk, jadi dicek dulu. Tiba-tiba ada suara ledakan (letupan lebih tepatnya) dari arah Teh Iin. Ternyata ada telur busuk yang meledak. Baunya mulai menyebar. Busuk sekali. Meskipun exhaust fan di dapur sudah dinyalakan tapi tetap saja bau H2S itu bertahan cukup lama, sekitar 15 menit kami meninggalkan dapur.
Kami penasaran dengan kejadian tersebut. Kenapa bisa meledak? Menurut pengakuan Teh Iin telur yang meledak tersebut cangkangnya bagus, tidak terlihat sama sekali seperti telur busuk.
Teh Iin pikir isi telurnya bagus.

Tapi ternyata isinya seperti ini

Warnanya abu-abu kehitaman. Mengerikan.
Hipotesis kami ledakan itu ditimbulkan oleh H2S yang dihasilkan pada proses pembusukan telur. Kami mencoba meng-Google ternyata penjelasannya kurang lebih hampir sama. Tekanan dari H2S yang semakin banyak itulah yang dapat menimbulkan ledakan. Dan ternyata menurut beberapa sumber di internet, gas H2S juga bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah, mengatasi peradangan pada sendi, dan sebagainya.
Subhanallah…telur busuk pun masih ada manfaatnya…
Oke, biarpun ada tragedi telur meledak perut kami harus tetap diisi. Alhamdulillah masih ada beberapa telur yang bagus. Dan inilah hasil masakannya:

Nasi liwet, telur dadar, ulen goreng, ikan balado, sayur sop, sambal terasi, dan jelly kiwi fla yoghurt.
Alhamdulillah lebih enak dan lebih sehat daripada kemarin
Jadi, “don’t judge the egg from its shell”, cangkangnya bagus belum tentu isinya bagus. Analoginya bisa disamakan dengan “don’t judge a person from his/her appearance” lah ya, hehe…

