Pernahkah terlintas di benak kita : “Saya bersyukur atas keadaan saya sekarang”?
TK dan SD Islam tempat saya belajar tidak berhasil membuat saya berjilbab. Ketika masuk ke SMP saya diingatkan oleh seorang teman kuliah ibu saya untuk memakai jilbab, hingga dibukakan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan tentang hal tersebut. Tapi hal tersebut hanya saya terima tanpa saya laksanakan.
Masuk SMA, saya pun belum berkeinginan untuk memakai jilbab, bahkan menolak dengan alasan yang aneh : “Nanti muka saya penuh donk, ada kacamata, behel, dan jilbab”. Benar-benar membuat saya tertawa kalau mengingatnya. Hehe..
Niat masuk SMA pun sama sekali tidak lurus. Saya berniat dalam hati : “Kalau saya udah SMA, saya mau pacaran”.
Astaghfirullah….
Mentoring di SMA saya ikuti dengan ogah-ogahan, kabur-kaburan, bahkan sampai bohong-bohongan (maksudnya banyak berbohong sebagai alasan untuk tidak mengikuti mentoring).
……………………
Akhir kelas 1 SMA, entah karena motivasi apa saya memutuskan untuk berjilbab. Dengan bermodalkan 1 pasang baju panjang seragam putih-putih untuk hari Senin dan 1 pasang putih-abu2 untuk Selasa. Untuk hari Rabu dan seterusnya belum sempat terpikirkan, yang penting berjilbab dulu, pikir saya.
Kelas 2 SMA akhirnya saya dengan senang hati mau mengikuti mentoring. Saking semangatnya sampai-sampai saya dan 1 orang teman saya mengikuti 2-4 mentoring dalam seminggu dengan kelompok yang berbeda-beda. Sampai pada akhirnya saya dan teman saya tersebut dikelompokkan dalam sebuah halaqoh bersama murabbiy pertama saya. Saya sangat kagum dengan karakter murabbiy saya, tegas namun lembut. Saya juga sangat kagum dengan teman-teman satu halaqah saya. Akselerasinya sangat luar biasa. 90 % teman-teman satu halaqah saya baru berjilbab ketika kelas 2 SMA. Namun pada akhir kelas 2 SMA, mereka telah menjadi asisten mentor, bahkan tak jarang mereka menggantikan posisi mentornya ketika mentor tersebut sibuk (karena pada umumnya mentornya masih kuliah).
Ketika kelas 3 SMA, salah satu teman halaqah saya bahkan berani mengambil keputusan untuk menikah karena alasan : tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak dia kerjakan. (Bagian ini akan diceritakan secara khusus di postingan berikutnya). Subhanallah….
Ketika memilih tempat kuliah pun tidak muluk-muluk, FSRD ITB, apa bisa? yaaa dicoba aja. Kalau masuk alhamdulillah, kalo ga ya bukan rejekinya. Ternyata Allah menghendaki saya masuk. Saya bertanya :
“Allah menginginkan apa dari saya di sini?“
Pertanyaan itu terus yang saya ajukan kepada Allah dan kepada diri saya sendiri ketika saya berhasil memasuki program studi yang diinginkan, mendapat amanah tertentu, atau berhasil mendapatkan suatu kesempatan.
TERNYATA…..
Apa yang Allah inginkan adalah pengenalan, pembelajaran, dan peningkatan kompetensi diri saya. Belajar menerima keadaan, mempelajarinya, dan memecahkan permasalahannya sendiri.
Learning by doing
…………………………………………….
Dari situlah saya mulai mengerti apa arti :
Apa yang Allah berikan adalah bukanlah apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan
Sekarang saya ingin kembali flashback.
Apakah kita menjadi baik hari ini karena usaha kita? karena do’a-do’a kita?
Ternyata Allah-lah yang berbaik hati menunjukkan, mengarahkan, menggerakkan tubuh dan pikiran kita untuk berubah. Lalu apa yang harus kita lakukan?
Mensyukurinya dengan berusaha men-istiqomah-kannya, meng-evaluasi, memperbaikinya, dan meningkatkannya setiap waktu, karena ujian akan datang di saat yang tepat untuk naik tingkat.
Semoga kita senantiasa syukur ni’mat dan dihindari dari kufur ni’mat.
Gambar : dari berbagai sumber








